Edit

Tentang

Kang Halim

Seni, Agama, Ilmu, Dan Kang Halim

Jalan hidup itu semenstinya tidak dicari tapi diciptakan, begitu kata orang ketika Kang Halim kecil menapaki lingkungan pesantren untuk pertakalinya tahun 1981. Tahun itu menjadi awal langkahnya untuk mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Irsyad, Rembang, Jawa Tengah. Selama lima tahun, Kang Halim menyelesaikan kitab demi kitab, kajian demi kajian untuk mencoba membangun jalan hidup sebelum akhirnya dikenal oleh kebanyakan orang sebagai politisi ulung.

 

Agama

Tahapan awalnya itu kemudian mengkaji lebih dalam keilmuan agamanya di Pondok Pesantren Roudhotut Thollibin di kota yang sama. Di perguruan santri ini, Kang Halim menghabiskan waktu hingga lima tahun. Di dua pesantren ini, Abdul Halim Muslih juga menyelesaikan pendidikan formalnya. Madrasah dinilai menjadi penghubung yang pas antara ilmu agama dan ilmu lainnya. Bisa dikata, Kang Halim memiliki memori cukup kuat dengan sekolah dan dua tingkatan madrasah di Rembang ini, yaitu SD Nawawiah Rembang, MTs Muallimin Muallimat Rembang, dan MA Muallimin Muallimat Rembang. Pria yang lahir 29 April 1970 itu kemudian merambah Yogyakarta untuk pertamakalinya. Apalagi jika bukan pesantren yang masih menjadi pilihannya untuk menghabiskan masa muda. Tahun 1994 silam, Kang Halim mulai menimba ilmu bersama ratusan santri di Pondok Pesantren Al Mahalli, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul. Pesantren yang diasuh oleh Alm. KH. Mujab Mahalli itu terus menjadi tempat yang mematangkan kemampuan agamanya. Hidup dari pesantren ke pesantren telah banyak membentuk pribadi Kang Halim dengan banyak elemen. Kompleksnya hubungan antar santri dari berbagai daerah, memicu pribadi Kang Halim menjadi lebih dekat dengan seni. Meski bagi sebagian santri, seni masih dinilai tabu saat itu, Kang Halim justru menaruh ketertarikan tersendiri. Baginya, hidup akan menjadi lebih tenang dan bahagia jika dibalut dengan kesenian. Sehingga ketika membaca ayat suci dalam Kitab Allah (Al-Quran) dengan lantunan nada dan ritme yang indah, orang akan lebih tenang mendengarkannya.

Sholawat dan puji-pujian

Sholawat dan puji-pujian menjadi bagian dalam hidup dan dihafal luar kepala. Tak ayal nada-nada dalam sholawat sering terlontar dar mulut tanpa sadar. Ketertarikannya dengan kesenian bahkan membuat Kang Halim mempelajari beberapa alat musik termasuk gitar yang saat itu belum tren di kalangan santri. Petikan demi petikan dawai gitar justru digunakannya untuk mengiringi dendang sholawat Nabi. Tiga hal, Agama, Ilmu, dan Seni setelahnya tidak dapat dipisahkan dari hidup Kang Halim. Satu hal kemudian menjadi prinsip hidupnya, “Dengan Agama kita tenang, dengan ilmu kita menang, dengan seni kita senang.”

Kang Halim

Nahdlatul Ulama Dan Partai Bentukan Gusdur

Kang Halim

tidak seketika mendeklarasikan dirinya sebagai warga Nahdliyin. Watak yang dibentuk dari keluarga yang kuat memegang prinsip Nahdlatul Ulama seakan sudah membai’at Kang Halim menjadi Nahdliyin sejak kecil. Sanad keilmuan dari para kyai dan ustadz yang pernah menularkan banyak ilmu agama kepadanya memantabkan jiwa Kang Halim untuk mengabdikan dirinya kepada NU. Di Bantul, Jabatan Ketua LTN PCNU Bantul pernah diembannya selama lima tahun dari 1995 hingga 2000. Bahkan hingga sat ini, Kang Halim menjadi penasehat PC GP Ansor Bantul. Sosok kuat yang menjadi bagian dari perjuangan kaum muda NU membawa Kang Halim pada posisi tersebut.

Sebagai partai yang lahir dari NU

Partai Kebangkitan Bangsa juga menjadi ladang perjuangan Kang Halim. Pertamakalinya, sekretaris Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Bantul dijalankan dengan baik. Posisi ini dijalankan Kang Halim setidaknya selama sepuluh tahun, 1999 hingga 2009. Setelah itu, berbekal pengalaman dan kematangan dalam berpolitik, suami Emi Masruroh ini kemudian diberikan mandate sebagai Wakil Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB DIY. Barulah pada tahun 2012 Kang Halim dipercaya menjadi nahkoda partai berlambang bintang sembilan ini sebagai Ketua DPC PKB Bantul hingga sekarang.